Suara dari Laut.

Di mata kami, Serikat Awak Kapal Perikanan Bersatu SAKTI-SULUT, keadilan bukan hanya kata yang indah di buku hukum, tapi kenyataan yang harus dirasakan oleh setiap warga negara indonesia, dan awak kapal penangkap ikan mereka yang bekerja dalam senyap di tengah laut, jauh dari sorotan, tapi menjadi tulang punggung ketahanan pangan laut Indonesia.
Apa itu keadilan di Indonesia?
Keadilan seharusnya berarti semua orang mendapatkan hak yang sama di mata hukum dan negara, tanpa memandang status sosial, pekerjaan, atau posisi. Keadilan adalah ketika:
Awak kapal mendapat upah layak sesuai kerja keras dan risiko yang mereka hadapi di laut.
Tak ada lagi perbudakan modern di atas kapal—baik kapal asing maupun kapal lokal.
Setiap awak kapal perikanan dilindungi, diberi jaminan sosial, kesehatan, dan keselamatan kerja.
Pelanggaran hak buruh ditindak, bukan dibiarkan karena kuatnya jaringan bisnis di baliknya.

Namun kenyataan di lapangan sering jauh dari itu. Masih banyak awak kapal perikanan yang dipekerjakan tanpa kontrak jelas, jam kerja panjang tanpa istirahat cukup, bahkan tidak dibayar. Banyak pula yang menjadi korban kekerasan, perdagangan manusia, dan eksploitasi di laut.
Bagi kami, keadilan adalah:
Ketika hukum hadir di atas kapal, bukan hanya di darat.
Ketika suara buruh laut didengar di meja kebijakan.
Ketika negara melindungi warganya yang bekerja di laut, sama seperti melindungi mereka yang bekerja di gedung-gedung tinggi di kota.
Keadilan harus bergerak dari teori menjadi aksi nyata.
Serikat Awak Kapal Perikanan Bersatu. SAKTI-SULUT berdiri untuk memastikan bahwa keadilan itu hidup, bukan hanya tertulis. Kami bersatu, memperjuangkan hak, dan menyuarakan keadilan bagi seluruh awak kapal perikanan. Karena kami tahu, keadilan sejati tidak datang dari diam—tapi dari perjuangan bersama.
