Indonesia merupahkan salah satu negara maritim besar yang memanfaatkan kekayaan perikanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi global dan domestik.

hampir 80% masyarakat kota Bitung profesinya sebagai pekerja di kapal penangkapan ikan . Dari data yang di miliki oleh Sakti Sulut, di tahun 2023 ada 1.058 kapal penangkapan ikan yang ada di kota bitung, dari ukuran 5 GT, Sampai 100 GT,  di mana mempekerjakan awak kapal perikanan berjumblah 8,477 Orang. dengan usia Rata-rata:

  • 18-40 tahun 70%
  • 40-60.tahun 30%.

yang datang dari beberapa wilayah di Sulawesi Utara Sanger,talaud,manado,minahasa, bahkan ada juga dari provinsi gorontalo. Yang menangkap ikan Di wilayah  laut sulawesi,laut maluku, papua, sampai ke laut pasific. belum lagi masyarakat sulawesi utara yang bekerja di kapal penangkapan ikan yang perusahaannya berada di muarah baru, probolinggo dan benoa bali.   Yang Wilaya lokasi penangkapan ikan di Laut Arafura. Kurang lebih ada 500 Orang, dengan  usianya Rata-rata  18 tahun sampai dengan 50 tahun keatas.  Dari tahun 2021 sampai  Tahun 2023 ada 68 aduan (Laporan) yang di terimah oleh Sakti Sulut dengan jumlah korban 92 orang.

Dimana yang melampor dari awak kapal perikanan itu sendiri, atau dari pihak  keluarga, orang tua dan istri. korban tersebut yang bekerja di Empat wilayah domisili  perusahaan  berbeda seperti. Muarah baru jakarta, Benoa Bali, Probolinggo dan di kota bitung, permasalahan yang selalu terjadi kepada awak kapal perikanan seperti.

  • gaji tidak di bayarkan ada.16%.
  • penahanan dokumen ada.5.%.
  • kematian AKP.35.%.
  • kecelakaan dan sakit akibat kerja ada.26%.
  • penahanan dokumen ada.10.%.

dan dari tahun 2021 sampai tahun 2023 ada 35 AKP yang meninggal di atas kapal ikan yang lokasi wilayah penangkapan ikan laut Arufura, dengan hampir semua penyebab kematian sama yaitu Asam lambung(infeksi paru paru). 90 korban dengan usia  rata rata:

  • 18-40. Tahun 70% 
  • 40-58 tahun 20% .

  Ada 14 Temuan kasus awak kapal perikanan domestic seperti:

  1. Gaji tidak di bayarkan
  2. Penahanan dokumen
  3. Jeratan hutang
  4. Tidak di jaminkan dengan jaminan sosial. BPJS Tenagakerja/BPJS kesehatan
  5. Bekerja dengan waktu yang panjang
  6. Sakit di terlantarkan
  7. Kekerasan fisik dan intimidasi
  8. Waktu makan tidak tepat
  9. Iming,iming upah yang besar.
  10. Terisolasi dan tempat tidur yang tidak layak
  11. Tidak ada PKL
  12. Persediaan P3K yang tidak memadahi
  13. Tidak memiliki sertifikat ketrampilan dan kealihan
  14. Upah di bawah UMP

PROSES PEREKRUTAN AKP DOMESTIK:

Perekrutan awak kapal perikanan domestik yang di pekerjakan di atas kapal ikan  dengan domisili perusahaannya di muarah baru jakarta, benoa Bali , probolinggo dan Bitung. Masih belum melalui standar perekrutan yang baik dan benar, hanya perekrutan secara informal, awak kapal perikanan mendapatkan lowongan pekerjaan tersebut bisa melalui media sosial FB, atau di ajak keluarga,teman,bahkan ada juga dari calo.dan ada juga yang  di rekrut  oleh Nakoda Kapal atau operator kapal untuk dipekerjakan di kapal kapal penangkap ikan. Kurangnya trasparan dari perekrut terkait hak dan kewajiban awak kapal perikanan. Dan itu semua terjadi Di sebabkan proses perekrutan dan penempatan awak kapal perikanan domestik belum ada satu regulasi yang mengatur di dalam PP No 27 tahun 2021 tidak pasal atau ayat yang mengatur standar perekrutan dan penempatan AKP lokal.

Tidak seperti awak kapal perikanan migran untuk proses perekrutan dan penempatannya suda di atur di dalam regulasi di dalam PP No 22 Tahun 2022.

Dimana permasalahan kepada awak kapal perikanan domestik yang di uraikan satu persatu dengan penyebab permasalahan yang berbeda beda.

  1. Gaji tidak di Bayarkan:

Penyebab gaji AKP tidak di bayarkan Karena Awak kapal perikanan terikat dengan perjanjian kontrak  kerja atau perjanjian kerja laut selama  satu tahun maka dari itu, AKP harus menyelesaikan kontrak tersebut, karena kalau tidak sisa upahnya akan di tahan oleh pihak perusahaan dengan alasan pemotongan pinjaman atau di pake buntuk membeli tiket untuk AKP pulang. jadi Walau AKP mengalami sakit tetap bertahan karena dengan alasan tadi sudah tanda tangan perjanjian kontrak kerja, PKL.

  • Jeratan hutang dan penahanan dokumen:

Penyebab terjadinya jeratan hutang dan penahanan dokumen untuk AKP. sebelum AKP berangkat ke Muara baru, benoa Bali dan probolinggo pihak perusahaan memberikan pinjaman sejumlah uang kepada AKP, membelikan tiket pesawat atau kapal laut, serta bahkan sampai membuatan dokumen AKP Seperti BST,Buku Pelaut. Dan semua itu  akan menjadi hutang untuk mengikat  awak kapal perikanan, yang nantinya akan di potong di gaji  setelah AKP bekerja, dan AKP juga  terikat dengan kontrak kerja, atau perjanjian kerja laut satu tahun dengan pihak perusahaan,  dan bila mana AKP tidak bisa menyelesaikan  kontrak kerja,PKL  satu tahun di karenakan sakit atau Dll, maka dokumen seperti BST,Buku Pelaut,KK,KTP, akan di tahan oleh pihak perusahaan sebagai jaminan nanti di kembalikan kalau awak kapal perikanan tela melunasi hutangnya kepada perusahaan.

  • Tidak di jaminkan dengan jaminan sosial:

Dari data masi banyak  Awak kapal perikanan masi banyak yang bekerja yang  tidak di jaminkan dengan jaminan sosial seperti, BPJS Tenaga kerja, dan BPJS Kesehatan. oleh pihak perusahaan sehingga terjadi kecelakaan kerja atau sakit akibat kerja pihak perusahaan atau pemberi kerja melepaskankan tanggung jawab.

  • Bekerja dengan waktu yang panjang:

Penyebab Awak kapal perikanan terkadang bekerja dengan waktu yang panjang melebihi waktu normal kerja sedangkan di dalam regulasi ketenega kerjaan minimal 8 jam kerja, berbeda dengan Permen KP No 33 Tahun 2021, untuk waktu kerja AKP 14 jam kerja. Sedangkan AKP Mendapatkan waktu untuk istirahat hanya 3 jam sampai 5 jam, serta kelebihan waktu kerja tidak di hitung lembur.  waktu kerja yang panjang  Tergantung jenis alat tanggap ikan dan ukuran kapal ada juga yang bekerja di bawah delapan jam kerja mendapatkan istirahat yang panjang.

  • Sakit di terlantarkan:

Penyebabnya. Awak kapal perikanan sakit dan di terlantarkan oleh pihak kapal, bahkan ada yang sampai meningggal dunia,contoh  wilayah penangkapan ikan di laut Arafura dan jika  AKP jatu sakit maka dari pihak kapal atau Nakoda hanya  menurunkan atau di titipkan di kapal lain yang akan masuk ke  Dobo atau merauke, atau kapal penampung ikan yang akan pulang ke bali dan merauke untuk di bawah ke rumah sakit. Dan terkadang dari pihak nakoda tidak mengijinkan ada orang yang  menemani selama perjalanan dan di rumah sakit sedang kondisi AKP lema atau kritis. dengan alasan pihak perusahaan tidak mengijinkan.

  • Kekerasan Fisik dan ancaman intimidasi:

Karena terjadi Kekerasan fisik yang di alami AKP di atas kapal biasanya dari pihak nakoda, yang memaksakan AKP bekerja terus menerus, dan kalau AKP melawan di ancam akan di pulangkan atau di pukul, dan setelah kapal masuk di darat akan memakai oknum aparat untuk mengitimidasi atau menita barang barang AKP seperti HP Dll.

  • Waktu makan yang tidak tepat:

Penyebabnya awak kapal perikanan sakit lambung  di karenakan  Awak kapal perikanan terkadang di paksakan untuk menyelesaikan pekerjaannya dulu  baru bisa makan, dan kalau pekerjaan belum selesai tidak bole makan sedangkan sudah melebihi waktu makan normal.

  • Terisolasi dan tempat tidur yang tidak layak:

Awak kapal perikanan dengan berbulan bulan di laut dan tidak bisa kemana tampa ada jaringan telfon,untuk memberikan kabar kepada keluaraga menanyakan terkait pengiriman gaji atau memberitahukan kondisi linkungan kerja di atas kapal, dan terkadang pihak perusahaan tidak menyiapkan kasur bantal, untuk AKP tidur. Harus berbulan bulan tidur di atas papan tampa pengalas dan bantal.  

  • Iming iming Upah yang Besar:

Penyebabanya kurang trasparan perekrut dengan AKP, karena awak kapal perikanan tersebut tidak tau kalau upahnya berapa perbulan sebelum berangkat, bahkan ada juga yang  menjanjikan dengan upah perbulannya Rp 5.000.000 setelah sampai di muara baru atau benoa bali, ternyata upahnya perbualan hanya Rp.2.500.000,dan itu nanti awak kapal perikanan itu tau upahnya  berapa setelah kapal mau lepas tali untuk berangkat pergi menangkap ikan.

  1. Tidak ada Perjanjian kerja ( PKL ):

Penyebab AKP tidak memiliki atau tidak memegang perjanjian kerja laut (PKL)Pihak perusahaan tidak memberikan perjanjian kerja laut kepada AKP dan bahkan ada juga tidak memberikan kesempatan untuk membaca isi PKL tersebut sebelum di tanda tangani. Bahkan ada juga dari pihak perusahaan meniru tanda tangan awak kapal perikanan untuk di tuangkan dalam PKL tersebut itu sampai awak kapal perikanan itu sendiri tidak tau nama perusahaan dan pemilik kapal.

  1. Persidiaan P3K yang tidak memadahi:

Persediaan P3K di atas kapal itu tidak memadahi, di waktu AKP sakit atau kecelakaan kerja tidak ada obat untuk mendapatkan pertolongan pertama, terkadang juga obat yang di berikan tidak sesuai dengan sakit yang di alami oleh AKP itu sendiri.

  1. Pelatihan kerja dan sertifikat ketrampilan dan kealihan untuk AKP:

 Terkadang awak kapal perikanan Susanya mendapatkan akses pengambilan sertifikat ketrampilan dan kealihan, persyarantan yang memberatkan bahkan biaya yang memberatkan bagi AKP, Ada juga dokumen AKP Aspal seperti,BST,Buku pelaut,Ankapin dan Atkapin hanya di tembak oleh pengurus kapal tampa melalui jalur yang sesuai sehingga rentan terjadi kecelakaan di atas kapal .

Sistim pengupahan perbulan,perhari dan bagi hasil untuk AKP domestik:

sistim pengupahan AKP domestik yang di Muara baru, Benoa Bali, Probolinggo, dan Bitung. Serta  jenis alat penangkap ikan.

  1. AKP yang di Upah perbulan dan perhari tergantung dari jenis alat tangkap.
  2. Kapal cumi. Rp.1.500.000 – 1.000.000 Perbulan
  3. Kapal Jaring Gilnet Rp. 3.200.000 – 2.500.000 perbulan
  4. Kapal Jaring Lingkar Rp. 3.400.000 – 2.400.000 perbulan
  5. Kapal longline Rp 70.000 – 60.000. perhari.
  • Sistim upah bagi hasil untuk AKP  dari ukuran alat penangkapan ikan.

Setelah di potong semua ongkos perbekalan operasi penangkapan ikan

  • Kapal pancing tuna. Hasil 100% bagi perorang, AKP 35% pemilik kapal 65%
  • Kapal jaring lingkar. Hasil 100% bagi semua, AKP 60% pemilik kapal 40%

 Upah awak kapal perikanan itu bervariasi Tergantung jawabatan dan tanggung jawab dalam pekerjaan di atas kapal.

Dalam permasalahan yang selalu di alami oleh awak kapal perikanan di karenakan kurang atau lemah pengawasan dari pemeritah terkait, begitu juga Ego sektoral kementrian dan tumpang tindi regulasi sehingga berdampak kepada pekerja awak kapal perikanan.  bahkan ada juga  pemilik kapal tidak patuh dengan  regulasi senghingga terjadi masalah itu dari tahun ke tahun terus menerus terjadi kepada AKP.

Melihat setuasi yang terjadi maka Pelindungan dan pengawasan  bagi AKP domestik perlu di tingkatkan walau sudah ada Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 2021, dimana di atur dalam Peraturan Mentri  kelautan perikanan No 33 Tahun 2021 terkait tatakelola awak kapal perikanan tapi itu juga masi belum cukup atau maksimal  karena di butukan juga join inspeksi bersama di atas kapal ikan, serta penerapan kesehatan keselamatan kerja yang baik untuk awak kapal perikanan. bahkan  pengharmonisasi regulasi di KL Pemerintah untuk tujuan meritifikasi ILO C188.

 Contoh beberapa kasus awak kapal perikanan di bawah ini:

  1. Pada hari selasa 08.maret.2022 keluarga dan orang Tua Sdr DP melaporkan ke sakti sulut.dalam Cerita kornologis laporan,Almarhum Sdr DP asal Kec. Lembe selatan dengan Usia 24 Tahun. pada bulan januari tahun 2022  Sdr DP berangkat dari Bitung ke Benoa  untuk bekerja di kapal KM SA 108 Milik PT S di Bali, dengan wilayah penangkapan ikan laut Arafura, setalah beberapa bulan Sdr DP Bekerja di KM SA 108, Sdr DP mengalami Sakit Sesak nafas karena asam lambung yang tinggi, dan Sdr DP memberitahuakan kondisinya kepada pihak Nakoda kapal untuk mendapatkan perawatan akan tetapi nakoda menyampaikan kapal tidak  bisa masuk ke darat dengan alasan  biaya besar akan di keluarkan akan tetapi Sdr DP bisa di titipkan ke kapal penampung ikan yang nanti pulang ke bali. Setelah dalam perjalanan kapal penampung untuk pulang ke bali  Sdr DP menghembuskan nafas terakhir (meninggal Dunia). Setelah proses pemulangan jenazah ke Bitung ternyata Almarhum Sdr DP tidak di ikut sertakan dengan Asuransi dan dari pihak PT SBU menawarkan ke pihak keluarga untuk santunan dan asuransi kematiannya hanya akan di bayarkan, Lima juta rupiah dengan alasan dari pihak PT S mengeluarkan  Biaya pemulangan jenazah dari Bali Ke Manado Mahal. Karena pihak keluarga tidak menerima terkait penawaran dari pihak PT S lalu melaporkan ke Sakti Sulut.
  • Pada tangal 28.April 2022 Ibu bernama MM melaporkan, dimana anaknya meninggal di atas kapal penangkapan ikan.dala kornologis di ceritakan.Sdr O.M asal Kec Lembe selatan dengan usia 21 Tahun berengkat pada bulan juni 2021 dari kota bitung ke Dobo dengan mengunakan kapal pelni  untuk bekerja di kapal KM SA 106 milik PT S di Bali dengan wilayah penangkapan ikan Laut Arafura dengan harapan besar Sdr O.M mau mambantu pihak orang tua setelah Sdr O.M sebelas bulan bekerja di kapal KM SA 106 sdr O.M merasa sakit sesak nafas dan Sdr O.M memberitahukan kondisinya kepada pihak nakoda, akan tetapi nakoda tidak merespon dengan baik hanya mennyampaikan kalau satu minggu kapal lagi akan masuk di Dobo jadi nanti sekalian  Sdr O.M akan berobat di rumah sakit di sana. Setelah berjalan waktu tepat tiga hari dari pemberitahuaan O.M kepada Nakoda, akhinya  Sdr O.M meninggal dunia di atas kapal, lalu kapal bertolak masuk ke merauke untuk mengantarkan Jenazah Sdr O.M setelah proses pemeriksaan jenazah di merauke ternyata Sdr O.M meninggal akibat  penyebab penyakit  Asam lambung. Kemudian jenazah sdr O.M di pulangkan ke manado dengan pesawat. Dan semua biaya yang di keluarkan oleh perusahaan terkait pemulangan jenazah akan di potong sisa gaji dan Asuransi kematian Sdr OM.
  • Pada tanggal 05.Agustu.2022. Sdr M.D melaporkan permasalahan yang alaminya. Pada januari 2022  Sdr M.D, asal  Kec Lembe selatan dengan Usia 45 Tahun, berangkat dari bitung menujuh muarah baru jakarta untuk bekerja di kapal  KM AB milik PT MS, setelah kurang lebih dua minggu di muarah baru,  lalu kapal KM AB berangkat untuk menangkap ikan di laut Arafura, setelah beberapa bulan bekerja Sdr M.D mengalami sakit di laut, sakit yang di alami seperti sesak nafas bahkan sampai lemas, dan kejadian tersebut Sdr M.D melaporkan kondisinya kepada pihak Nakoda kapal agar bisa mendapatkan obat, akan tetapi di kapal tidak tersedia obat yang di butukan Sdr MD. Setelah berjalan waktu di karenakan Sdr MD sudah tidak bisa melanjutkan pekjerjaannya lalu Sdr memaksakan agar pihak Nakoda bisa mengantarkan di pelabuhan terdekat agar mendapatkan pertolongan medis, karena nakoda melihat  kondisi sdr M.D yang lemas dan akhinya Sdr M.D di antarkan ke merauke untuk medapatkan pengobatan. setelah sampai di muka merauke Sdr M.D di pindakan ke perahu sampan untuk di bawah kedarat, dengan alasan dari  nakoda pihak PT MS tidak mengijinkan kapal untuk masuk kedarat. Lalu sampan mengatarkan Sampai ke darat. Dan  Sdr M.D di jemput oleh orang yang mengaku perwakilan dari pihak PT MS, lalu membawah  ke rumah Sakit umum di merauke setelah beberapa hari di rawat di merauke,dari pihak dokter membuat surat rujukan merujuk ke rumah sakit yang di manado, dikarenakan fasilitas rumah Sakit di merauke tidak memadahi, dan akhirnya Sdr M.D di di pilangkan dengan via pesawat ke manado. Setelah sampai di manado Sdr M.D menghubungi pihak PT MS untuk meminta sisa gaji dan biaya berobat lanjutan di manado akan tetapi  dari pihak PT MS  tidak mau bertanggung jawab dengan biaya pengobatan lanjutan di manado sedangkan sisa gaji Sdr MD di potong dengan Biaya seperti tiket pesawat dan biaya waktu di rumah sakit di merauke.  Sdr M.D menceritakan dari awal saya bekerja di kapal KM AB saya tidak pernah tanda tangan perjanjian kerja laut PKL. Tidak di ikut sertakan dengan BPJS Tenagakerja oleh pihak PT MS dan kami  kalau di kapal itu dalam satu hari tiga kali makan pagi makan nasi,siang makan mie, sore makan nasi, sedangkan kami bekerja sangat keras dengan waktu yang panjang itu banyak yang mengalami sakit sampai mengakibatkan meninggal dunia.
  • Pada tanggal 15.September.2022. orang tua awak kapal perikanan melaporkan anaknya yang meninggal di Dobo kepulauan Arafura singkat kornologis. Sdr S.k Asal Kec maesa dengan Usia 28 Tahun berangkat dari bitung pada bulan ferbuari tahun 2022 menujuh muarah baru jakarta untuk bekerja di kapl  KM SW Milik PT T di jakrta, setelah 3 hari di Muarah baru  Sdr S.K dengan kapal KM SW  berangkat menujuh wilayah laut Arafura untuk menangkap ikan setelah beberapa bulan bekerja Sdr S.K jatu sakit sesak nafas bahkan sampai bengkak di seluru tubu, karena sudah tidak tahan dengan kondisi tersebut  maka Sdr S.K melaporkan  terkait kondisinya kepada pihak  Nakoda kapal dengan harapan  agar dirinya bisa di antar kedarat untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit terdekat akan tetapi pihak  dari nakoda tidak merespon tetang keluhan Sdr S.K hanya memberikan obat anti biotik, setelah kurang lebih tiga minggu kondisi Sdr S.K semakin memburuk dan pada waktu kebetulan kapal KM. SW mau masuk ke Dobo untuk melakukan pembokaran hasil tangkapan, jadi langsung sekalian membawah Sdr S.K kerumah Sakit umum  di Dobo, setelah sampai di rumah sakit di dobo  Sdr S.K menelfon ibunya untuk memberitahukan kondisinya dan perlakuan nakoda kapal kapada dirinya, dan Sdr SK meminta untuk di pulangkan ke Bitung di karenakan sudah tidak tahan lagi dengan penyakit yang di alaminya,  Sdr S.K menyampaikan kalau suda mau satu bulan saya sakit tapi tidak pernah di perhatikan oleh pihak Nakoda kapal lalu orang tua SK coba menelfon pihak nakoda kapal dan orang kantor di jakarta agar bisa secepatnya anaknya yang bernama SK untuk dipulangkan, akan tetapi dari pihak rumah sakit yang di dobo tidak berani mengeluarkan Sdr S.K  karena kondisinya sangat lemah. Dan bosoknya Sdr  S.K meninggal Dunia. Lalu di proses untuk pemulangan janazah dari Dobo ke Manado. Setelah sampai di manado ternyata Sdr S.K tidak di ikutkan sertakan  dengan asuransi bpjs tenagakerja lalu dari pihak PT.T menawarkan ke pihak keluarga untuk  sartunan kematiannya sebesar dua puluh juta rupia, pihak keluarga tidak menerima tawaran santunan dari PT T dan kasus ini di laporkan Ke Sakti Sulut.
  • Pada tanggal 09,Ferbuari,2023, Ibu Kandung Sdr I.A melaporkan anaknya yang meninggal akibat perbuatan Nakoda dan pemilik kapal, dalam cerita kornologis . Sdr I.A asal lembeh utara umur 31 Tahun dan pada bulan januari 2023, Sdr IA berangkat dari bitung ke Dobo untuk bekerja di kapal KM SM milik PT AM yang di muarah baru jakarta. Setelah kurang lebih satu bulan  bekerja sdr I.A Jatu sakit sesak nafas sampai badan lemas dengan posisi kapal di tenga laut Arupafura lalu Sdr A.I memberitahukan terkait kondisinya kepada pihak Nakoda kapal agar mendapatkan perawatan atau di antar di rumah sakit terdekat akan tetapi,  pihak nakoda kapal tidak merespon atau mencari solusi  terkait keluhan Sdr  A.I sedangkan  kondisinya Sdr AI semakin hari semakin lemah dan karena  waktu itu cuaca tidak bersahabat dengan gelombang besar maka  kapal tersebut  bertolak  untuk berlindung bukan mengantarkan Sdr IA untuk Berobat. Dan itu juga  tidak masuk sandar di dermaga akan tetapi berlabuh di depan pulau merauke. Dan Kebetulan ada jaringan Telfon maka  Sdr A.I menelfon ibu dan kakaknya untuk meminta bantuan  karena sudah tidak tahan lagi dengan sakit  yang di alaminya, lalu ibunya Sdr AI menelfon pemilik kapal di jakarta dan nakoda untuk meminta agar anaknya segera di pulangkan akan tetapi hanya habis di janji tidak ada tindakan, lalu  Sdr A.I coba untuk memberitahukan kembali kepada pihak nakoda terkait kondisinya akan tetapi nakoda bukan merespon membawah  Sdr A.I ke rumah sakit malah kapal di pindakan ke tenga laut. Akhinya Sdr A.I mengambil keputusan untuk kabur dari kapal, kebetulan malam itu ada perahu nelayan yang melintas Sdr A.I memanggil untuk meminta pertolongan agar dia bisa menumpang ke daratan meraurke  setelah sampai di merauke ibu Sdr A.I membeli tiket pesawat untuk  pulang ke manado, pas sampai di manado dengan pesawat Ibu Sdr A.I melihat kondisi anaknya yang begitu lemah maka langsung di bawah ke rumah sakit umum di manado. Pas dua hari di rawat di rumah sakit Sdr  A.I meninggal dunia. Setelah beberapa hari dari meninggal  Sdr AI, orang tua Sdr AI menelfon ke pihak perusahaan di jakarta untuk meminta tanggung jawab dengan kejadian yang menimpah Sdr AI akan dari pihak perusahaan tidak mau bertanggung jawab dengan alasan Sdr kabur dari kapal dan tidak menyelesaukan kontrak kerjanya..
  • Pada tanggal 13,Mei,2023.Sdr MK asal Kec Lembeh selatan dengan usia 41 tahun  Melaporkan PT S di Bali dalam kornologis. M.K pada bulan Ferbuari 2023, Sdr MK berangkat dari bitug ke Bali untuk bekerja di kapal  KM SJ 106 Milik PT S Bali satelah satu minggu di bali kapal KM SJ 106 Brangkat untuk menangkap ikan di laut Arafura, setelah beberapa bulan bekerja Sdr M.K mengalami sakit sesak nafas sampai mengakibatkan dara  Sdr MK naik sampai mengalami  Struk ringan karna kondisi Sdr M.K tidak bisa melanjutkan untuk bekerja maka Sdr M.K melaporkan kepada  pihak nakoda kapal untuk mengantarkan ke rumah sakit terdekat, lalu pihak nakoda kapal mengantar M.K ke merauke. Akan tetapi kapal hanya mengantar di depan pulau Merauke tidak masuk sampai di dermaga, lalu di jemput dengan perahu nelayan di depan pulau merauke, Sdr A.B asal Kec lembe selatan dengan usia 21 tahun  yang dimana kebetulan satu kapal dengan Sdr. M.K dan melihat kondisi Sdr M.K Tidak bisa berjalan maka Sdr A.B memutuskan untuk pulang agar bisa membantu Sdr M.K namun pihak nakoda tidak mengijinkan Sdr A.B untuk pulang karena dengan alasan kekurangan ABK di Kapal Km SJ 106, akan tetapi Sdr. A.B tetap pada prinsipnya untuk menamani Sdr M.K. lalu mereka berdua naik perahu nelayan untuk di antarkan ke darat setelah sampai di darat Sdr.A.B membawah Sdr. M.K ke rumah sakit umum di merauke. Setelah di rawat kurang lebih dua minggu Sdr A.B dan M.K tidak pernah di berikan biaya berobat dan makan selama di merauke, lalu Sdr menghungi Keluarga Sdr M.k untuk memberitahukan kondisi mereka berdua disana, dan pihak keluarga mengirimkan sejumblah uang makan dan uang berobat, setelah Sdr M.K di nyatakan dokter sudah bole pulang walau kondisinya masi belum baik seperti semula akan tetapi memili untuk pulang berobat lanjutan di manado, dan sdr A.B menghubungi Pihak PT S di bali, akan tetapi jawaban dari pihak PT S mereka tidak akan membayar sisa gaji Sdr M.K dan Sdr A.B dan bahkan sampai dokomen mereka di tahan oleh pihak PT S, dengan alasan pihak dari PT S mereka berdua gagal tidak menyelesaikan kontrak satu tahun.
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *