PERUBAHAN IKLIM MEMBAWA MALAPETAKA BAGI AWAK KAPAL PERIKANAN DAN KELUARGANYA DI INDONESIA

PERUBAHAN IKLIM MEMBAWA MALAPETAKA BAGI AWAK KAPAL PERIKANAN DAN KELUARGANYA DI INDONESIA

SAKTI Sulut Terima Tiga Pengaduan Keluarga, Mulai dari Awak Kapal Meninggal karena Sakit, Kecelakaan Kerja hingga Hilang di Laut

BITUNG, SULAWESI UTARA 5 September 2026 — Perubahan iklim tidak hanya berdampak terhadap hasil tangkapan nelayan dan kehidupan masyarakat pesisir. Bagi awak kapal perikanan yang bekerja berhari-hari bahkan berminggu-minggu di tengah laut, perubahan kondisi cuaca dan lingkungan laut juga dapat meningkatkan risiko keselamatan dan memperberat kondisi kerja.

Persoalan tersebut kini menjadi perhatian Serikat Awak Kapal Perikanan Bersatu (SAKTI) Sulawesi Utara setelah menerima sejumlah pengaduan dari keluarga awak kapal perikanan.

SAKTI Sulut mencatat tiga pengaduan keluarga dengan persoalan berbeda, yakni terkait awak kapal perikanan yang meninggal karena sakit, awak kapal yang mengalami kecelakaan kerja, serta awak kapal yang hilang di laut.

Bagi SAKTI Sulut, setiap laporan tersebut tidak boleh dilihat sebagai persoalan biasa. Di balik setiap kejadian terdapat kehidupan manusia dan keluarga yang bergantung pada penghasilan seorang awak kapal.

Ketika seorang awak kapal berangkat melaut, yang dipertaruhkan bukan hanya tenaga dan waktu, tetapi juga keselamatan dan nyawanya.


TIGA PENGADUAN, TIGA KELUARGA MENUNGGU KEPASTIAN

Menurut SAKTI Sulut, tiga pengaduan yang diterima dari keluarga menunjukkan bahwa persoalan perlindungan awak kapal perikanan masih membutuhkan perhatian serius.

Kasus pertama berkaitan dengan awak kapal yang meninggal dunia karena sakit.

Kasus kedua menyangkut awak kapal yang mengalami kecelakaan kerja.

Sedangkan kasus ketiga berkaitan dengan awak kapal yang hilang di laut.

Ketiga persoalan tersebut memiliki karakteristik berbeda dan membutuhkan penanganan sesuai fakta serta ketentuan yang berlaku.

Namun, terdapat satu kesamaan yang tidak boleh dilupakan: keluarga awak kapal membutuhkan kepastian dan perlindungan.

SAKTI Sulut menilai pemerintah, pemilik kapal, perusahaan perikanan, nakhoda dan seluruh pihak yang berkaitan dengan kegiatan penangkapan ikan memiliki tanggung jawab untuk memastikan keselamatan awak kapal selama bekerja di laut.


KASUS KHUSUS KM HOLLYWOOD 70

Kehabisan Makanan, Air Bersih dan Solar, Tiga Awak Kapal Berusaha Menyelamatkan Diri

Salah satu kasus yang secara khusus menjadi perhatian SAKTI Sulut adalah kejadian yang melibatkan KM Hollywood 70.

Berdasarkan pengaduan yang diterima SAKTI Sulut dari keluarga awak kapal, kapal tersebut dilaporkan mengalami kondisi sulit di laut karena kehabisan makanan, air bersih dan bahan bakar solar.

Kondisi tersebut membuat awak kapal berada dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan.

Dalam keterangan yang diterima SAKTI Sulut, kapal bahkan harus bertahan dengan cara mengikat tali pada rumpon di tengah laut.

Situasi semakin mengkhawatirkan karena menurut keterangan yang diterima SAKTI Sulut, kapal juga mengalami kebocoran.

Kondisi kebocoran tersebut disebut telah berlangsung selama kurang lebih 10 hari.

Selama berada dalam kondisi tersebut, awak kapal disebut telah menyampaikan keadaan kapal dan meminta pertolongan kepada pemilik kapal.

Namun, berdasarkan keterangan yang diterima SAKTI Sulut, tidak kunjung ada solusi atau pertolongan sebagaimana yang diharapkan awak kapal.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan kepanikan.

Tiga awak kapal berada dalam situasi yang menurut pengaduan sangat mengkhawatirkan keselamatan jiwa mereka.

Dalam kondisi terdesak, ketiganya akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan kapal menggunakan perahu kecil atau pakura dengan harapan dapat menyelamatkan diri.

Keputusan tersebut menggambarkan betapa gentingnya situasi yang mereka hadapi.

Dari tiga awak kapal tersebut, dua orang berhasil selamat, sedangkan satu awak kapal lainnya hingga saat ini belum ditemukan keberadaannya.


SATU AWAK KAPAL HILANG, KELUARGA MASIH MENUNGGU

Hilangnya seorang awak kapal dalam peristiwa KM Hollywood 70 menjadi bagian paling memilukan dari kasus tersebut.

Bagi keluarga, hilangnya seorang anggota keluarga di tengah laut bukan hanya persoalan pekerjaan.

Ada orang tua yang menunggu.

Ada istri yang menunggu suami pulang.

Ada anak yang menunggu ayahnya kembali.

Dan ada keluarga yang sampai saat ini membutuhkan kepastian mengenai keberadaan orang yang mereka cintai.

Ketua Umum SAKTI Sulut, Arnon Hiborang, mengatakan bahwa kasus seperti ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan sektor perikanan.

Menurutnya, keselamatan awak kapal tidak boleh hanya dibicarakan setelah terjadi korban.

“Kami tidak ingin keselamatan awak kapal baru menjadi perhatian ketika sudah ada yang meninggal, kecelakaan atau hilang di laut. Keselamatan itu harus dipastikan sebelum kapal berangkat dan harus dijaga selama kapal beroperasi,” tegas Arnon Hiborang.

Arnon mengatakan, awak kapal perikanan merupakan pekerja yang menghadapi risiko tinggi karena sebagian besar waktu kerjanya berlangsung jauh dari daratan.

“Awak kapal bekerja di tengah laut. Ketika kapal mengalami kerusakan, kehabisan bahan bakar, makanan atau air bersih, mereka tidak bisa begitu saja berjalan pulang. Mereka bergantung pada kapal, peralatan keselamatan, komunikasi dan respons dari pihak yang bertanggung jawab,” ujarnya.


ARNON HIBORANG: JANGAN NORMALISASI RISIKO DI LAUT

Arnon Hiborang menegaskan bahwa risiko pekerjaan di laut memang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.

Namun, menurutnya, risiko tersebut harus dikelola dan diminimalkan melalui sistem keselamatan yang benar.

“Kita tidak boleh mengatakan bahwa karena mereka bekerja di laut, maka risiko seperti ini adalah hal biasa. Tidak. Risiko boleh ada, tetapi kewajiban untuk mencegah korban tetap harus dijalankan,” kata Arnon.

Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan kapal sebelum melakukan perjalanan.

Menurutnya, kapal harus memastikan ketersediaan bahan bakar, makanan, air bersih, alat komunikasi, alat keselamatan, kondisi lambung kapal serta perlengkapan darurat sebelum meninggalkan pelabuhan.

“Kalau kapal sudah berada di tengah laut dan mengalami masalah, pertolongan tidak selalu bisa datang dalam hitungan menit. Karena itu semua harus dipersiapkan sejak awal. Jangan menunggu kapal berada dalam kondisi darurat baru mencari solusi,” lanjutnya.


PERUBAHAN IKLIM MENAMBAH RISIKO BAGI PEKERJA LAUT

SAKTI Sulut juga melihat persoalan keselamatan awak kapal harus dibahas dalam konteks perubahan iklim.

Perubahan pola cuaca, kondisi gelombang, arus laut dan fenomena cuaca ekstrem dapat membuat aktivitas di laut semakin berisiko.

Namun, Arnon Hiborang menegaskan bahwa perubahan iklim tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab keselamatan.

“Kalau kondisi laut semakin sulit akibat perubahan iklim, maka perlindungan terhadap awak kapal juga harus semakin kuat. Jangan justru sebaliknya. Risiko semakin besar, tetapi perlindungan tetap sama,” ujarnya.

Menurut Arnon, awak kapal perikanan harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam sistem keselamatan sektor perikanan.

“Kita sering berbicara tentang kapal, investasi, hasil tangkapan dan produksi perikanan. Tetapi jangan lupa bahwa ada manusia yang menjalankan semua itu. Kalau manusianya tidak dilindungi, maka pembangunan sektor perikanan tidak bisa disebut berhasil,” tegasnya.


SAKTI SULUT MINTA KASUS KM HOLLYWOOD 70 DIUNGKAP SECARA TERANG

SAKTI Sulut mendorong agar seluruh rangkaian kejadian KM Hollywood 70 dapat ditelusuri secara menyeluruh oleh instansi yang berwenang.

Mulai dari kondisi kapal sebelum berangkat, ketersediaan bahan bakar, makanan dan air bersih, kondisi kebocoran kapal, komunikasi antara awak kapal dengan pemilik kapal, hingga proses penanganan keadaan darurat perlu diperiksa berdasarkan fakta.

SAKTI Sulut juga mendorong agar pencarian terhadap awak kapal yang masih hilang terus dilakukan sesuai prosedur dan kewenangan instansi terkait.

Menurut Arnon, keluarga korban berhak mendapatkan informasi yang jelas.

“Keluarga jangan dibiarkan menunggu tanpa kepastian. Kalau ada proses pencarian, sampaikan perkembangannya. Kalau ada pemeriksaan, lakukan secara transparan. Jangan sampai keluarga justru mendapatkan informasi yang tidak jelas dari satu pihak ke pihak lainnya,” kata Arnon.

Ia menambahkan, apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran atau kelalaian, maka harus ada pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan. Yang kami minta adalah fakta dibuka, keselamatan korban diperhatikan, keluarga mendapatkan haknya, dan kejadian seperti ini jangan sampai terulang,” ujar Arnon.


DI BALIK SATU AWAK KAPAL ADA SATU KELUARGA

SAKTI Sulut mengingatkan bahwa persoalan awak kapal perikanan tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang hubungan kerja.

Setiap awak kapal memiliki keluarga.

Mereka bekerja di laut untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ketika seorang awak kapal meninggal dunia, sakit, mengalami kecelakaan atau hilang di laut, dampaknya langsung dirasakan oleh keluarga.

Pendapatan berhenti.

Keluarga kehilangan pencari nafkah.

Anak-anak kehilangan sosok ayah.

Dan dalam kasus awak kapal yang hilang, keluarga bahkan harus menghadapi ketidakpastian yang panjang.

Arnon Hiborang menyebut kondisi tersebut sebagai persoalan kemanusiaan.

“Kita harus melihat awak kapal sebagai manusia, bukan hanya sebagai tenaga kerja atau angka dalam daftar awak kapal. Di belakang mereka ada keluarga yang menunggu setiap kali kapal berangkat,” katanya.


KESELAMATAN BUKAN SEKADAR DOKUMEN

SAKTI Sulut menilai perlindungan awak kapal tidak boleh hanya terlihat dalam dokumen administrasi.

Keselamatan harus benar-benar diterapkan dalam praktik.

Sebelum kapal berangkat, harus ada kepastian bahwa kapal berada dalam kondisi layak, perlengkapan keselamatan tersedia dan berfungsi, bahan makanan serta air bersih mencukupi, bahan bakar tersedia sesuai kebutuhan operasi, serta sistem komunikasi dan keadaan darurat dapat digunakan.

Bagi SAKTI Sulut, dokumen keselamatan tidak akan berarti apabila dalam praktiknya awak kapal tetap menghadapi kondisi yang membahayakan nyawa.

“Jangan sampai aturan lengkap, dokumen lengkap, tetapi ketika awak kapal berada di tengah laut mereka justru tidak mendapatkan perlindungan yang nyata. Yang dibutuhkan awak kapal bukan hanya tulisan di atas kertas, tetapi keselamatan yang benar-benar dirasakan,” tegas Arnon.


SAKTI SULUT: PEMERINTAH HARUS HADIR

SAKTI Sulut meminta pemerintah dan seluruh instansi terkait memperkuat pengawasan terhadap kondisi kerja awak kapal perikanan.

Menurut organisasi tersebut, pengawasan tidak hanya dilakukan ketika kapal berada di pelabuhan, tetapi harus memastikan sistem perlindungan dan keselamatan berjalan selama kegiatan operasional.

SAKTI Sulut juga meminta agar pengaduan keluarga awak kapal mendapatkan respons cepat, khususnya ketika menyangkut kematian, kecelakaan kerja, keadaan darurat dan kehilangan awak kapal di laut.

Arnon menegaskan bahwa organisasi pekerja akan terus menyuarakan kepentingan awak kapal perikanan.

“Kami di SAKTI Sulut akan terus menerima dan mengawal pengaduan awak kapal maupun keluarganya. Bagi kami, satu nyawa awak kapal yang hilang sudah cukup menjadi alasan bagi semua pihak untuk melakukan evaluasi,” ungkapnya.


LAUT BOLEH BERBAHAYA, TETAPI KESELAMATAN TIDAK BOLEH DIABAIKAN

Kasus KM Hollywood 70 menjadi pengingat bahwa bekerja di sektor perikanan memiliki risiko yang tidak kecil.

Perubahan iklim dapat meningkatkan tantangan di laut, tetapi perlindungan terhadap manusia harus berjalan lebih cepat daripada peningkatan risikonya.

Tiga pengaduan yang diterima SAKTI Sulut juga menunjukkan bahwa persoalan awak kapal perikanan membutuhkan perhatian berkelanjutan.

Sakit, kecelakaan kerja, dan hilang di laut tidak boleh dianggap sebagai risiko biasa dari sebuah pekerjaan.

Di balik setiap kejadian terdapat manusia, keluarga dan masa depan yang ikut terdampak.

SAKTI Sulut menegaskan akan terus mendorong perlindungan dan keselamatan awak kapal perikanan serta memastikan suara keluarga korban tidak hilang begitu saja.

Karena bagi awak kapal perikanan, tujuan mereka bukan hanya mendapatkan hasil tangkapan.

Tujuan mereka adalah bekerja, mendapatkan penghasilan, dan kembali pulang dengan selamat kepada keluarga.

“Laut adalah tempat kami mencari nafkah. Jangan jadikan laut sebagai tempat kami kehilangan nyawa karena keselamatan yang diabaikan.”

— Arnon Hiborang, Ketua Umum SAKTI Sulawesi Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *